KOSONG
Kosong itu bukan berarti tidak ada walau sejatinya ia lambang
ketiadaan. Ia ada bersama ketiadaan lainnya sebagaimana pria dibawah pohon
akasia itu telah berpindah ke bawah pohon trembesi karena ternyata akasia tidak
lagi mampu melindunginya dari sinar bola api yang hadirnya menjadi kesenangan
bagi kaum ibu yang sedang menjemur pakaian. Mahoni ataupun trembesi itu
tidaklah penting karena pria itu tetap dengan pesonanya yang tak pernah berubah
walau tergerus zaman.
Ribuan elegi dirangkai Majnun untuk mengekspresikan warnanya
pada Laila yang kesemuanya kemudian berhasil menginspirasiku untuk sebuah elegi
yang sama. Tidak tau kapan hujan akan datang karena rupanya hari ini
pertengahan musim panas. Hadirnya hujan tuk sekedar basahi aspal kering yang
terpanggang lesu karena gagahnya matahari menjadi mimpi Majnun sembari menanti
menengadahkan wajah lusuhnya yang kemudian sumringah setelah melihat langkah
gontai Laila karena gelengan kepala keluarganya.
Berhenti di persimpangan jalan bukanlah pilihan yang tepat
walau kau melihat lampu merah menyala karena engkau hanya menaiki sandal usang
yang lolos dari cegatan si lampu merah pinggir jalan. Aku terdengar seperti
Khodijah yang diam-diam menyukai Muhammad tapi entah apakah aku akan
seberuntung Khodijah yang mendapatkan pelukan Muhammad. Bersemu merah
menyaingi rona jambu monyet adalah deskripsi wajah-wajah polos yang tengah
disapa cinta. Senja dijadikan latar momen indah mereka mengabadikan jingga
dengan serpihan awan sebagai bingkainya.
Hai pria dibawah mahoni! apa gerangan yang sedang kau
lakukan? Mengapa kau tetap saja asyik memperhatikan dunia dan abaikan sapaan
kumbang? Bahkan cahaya kunang-kunangpun tak berhasil tarik perhatianmu.
Wejangan malam tuk tinggalkan Laila diabaikan majnun hanya karena hatinya terpaut
pada keelokan Laila bahkan Majnun tutup telinga lalu kemudian pergi menyusuri
padang pasir. I rather die than watch you leave coz
you’re the reason why I breath begitulah kira-kira lirik lagu yang disenandungkan Majnun
di sepanjang padang pasir yang disusurinya. Butiran-butiran pasirpun ikut
bersenandung merasakan kegelisahan Majnun.
Tidak seorangpun bisa melihat dirinya di masa depan dan diapun
tidak tau jalan mana saja yang akan dilewatinya termasuk kejutan-kejutan yang
akan ia terima. Apa yang aku rasakan hari ini mungkin akan menjadi cerita
menggelikan esok hari bahkan mengenangnya sajapun enggan. Aku selalu yakin
bahwa kisah masa depan bukanlah apa yang sedang aku khayalkan hari ini sehingga
hayalan itu harus segera diskip. Banyak orang menjadikan hatinya barometer
kebenaran sehingga Majnunpun yakin bahwa ia mencintai Laila karena mengikuti
kata hati. Hati yang abstrak itu bukan sosok Muhammad yang ma’shum, ia bisa
saja salah dan bisa saja benar.


Komentar
Posting Komentar